
Banyak orang di Indonesia mengenal “ikan dori” sebagai fillet putih yang sering muncul di restoran atau supermarket. Namun sebenarnya, ikan yang dijual dengan nama tersebut biasanya bukan ikan dori laut asli. Sebagian besar produk itu berasal dari ikan patin air tawar yang difillet.
Ikan dori laut yang sebenarnya memiliki nama ilmiah Zeus faber dan dikenal secara internasional sebagai John Dory. Spesies ini hidup di laut dan memiliki bentuk tubuh yang sangat khas. Tubuhnya pipih seperti piring, dan di bagian samping terdapat bintik hitam besar yang menjadi ciri paling mudah dikenali.
Di alam liar, ikan ini terkenal sebagai predator penyergap yang sangat sabar. Ia tidak mengejar mangsa dengan cepat seperti tuna atau makarel. Sebaliknya, ikan dori lebih mengandalkan kamuflase dan teknik berburu diam-diam.
Peran ikan ini di ekosistem laut cukup penting. Dengan memangsa ikan kecil, mereka membantu menjaga keseimbangan populasi di habitatnya. Namun di balik kemampuan berburu yang luar biasa itu, ikan dori justru menghadapi ancaman dari aktivitas manusia, terutama dari tangkapan sampingan atau bycatch dalam industri perikanan.
Profil Singkat Ikan Dori Laut
Nama ilmiah: Zeus faber
Nama umum: John Dory, St Pierre, Peter’s Fish, ikan dori laut
Famili: Zeidae
Ciri Fisik
-
Tubuh sangat pipih dan lebar jika dilihat dari samping
-
Memiliki bintik hitam besar di sisi tubuh yang menjadi ciri khas
-
Sirip punggung berduri panjang
-
Warna tubuh biasanya hijau zaitun keperakan dengan perut putih
Ukuran
-
Ukuran rata-rata: sekitar 40 cm
-
Ukuran maksimum: 65–90 cm
-
Berat maksimum: sekitar 5–8 kg
Pola Makan
-
Predator karnivora
-
Memakan ikan kecil (sarden, teri, makarel)
-
Juga memakan cumi-cumi dan krustasea
Umur dan Reproduksi
-
Umur hidup dapat mencapai sekitar 12 tahun
-
Matang secara seksual pada usia 3–4 tahun
Habitat Asli dan Penyebaran
Ikan dori laut termasuk kelompok ikan bentopelagis. Artinya, mereka hidup dekat dasar laut tetapi masih bergerak di kolom air.
Habitatnya cukup luas. Spesies ini dapat ditemukan di berbagai wilayah perairan dunia, antara lain:
-
Samudra Atlantik Timur
-
Laut Tengah
-
Laut Hitam
-
kawasan Indo-Pasifik
Di wilayah Indo-Pasifik, ikan ini hidup di sekitar perairan Australia, Selandia Baru, Jepang, hingga Korea.
Kedalaman tempat hidup ikan dori juga cukup bervariasi. Mereka bisa ditemukan mulai dari sekitar 5 meter hingga lebih dari 360 meter. Meski begitu, sebagian besar individu biasanya hidup di kedalaman sekitar 50 sampai 150 meter.
Perbedaan habitat juga terlihat antara ikan muda dan ikan dewasa.
Ikan dori yang masih muda cenderung memilih tempat yang lebih terlindung. Mereka sering berada di sekitar batu, karang kecil, atau padang lamun. Lingkungan seperti ini memberi banyak tempat bersembunyi dari predator.
Sebaliknya, ikan dori dewasa sering berpindah ke area dasar laut yang lebih terbuka. Mereka menyukai dasar berpasir atau campuran pasir dan lumpur. Habitat seperti ini justru mendukung teknik berburu mereka yang mengandalkan penyamaran.
Di berbagai wilayah dunia, ikan dori mengisi relung ekologi yang hampir sama. Mereka hidup sebagai predator penyergap yang menunggu mangsa lewat sebelum menyerang dengan cepat.
Lingkungan dan Ancaman Populasi
Walaupun ikan dori tidak selalu menjadi target utama nelayan, spesies ini tetap menghadapi tekanan yang cukup besar dari aktivitas perikanan.
Masalah terbesar datang dari bycatch, yaitu tangkapan sampingan yang terjadi ketika nelayan sebenarnya menargetkan spesies lain.
Perikanan pukat dasar dan jaring insang sering menangkap ikan dori secara tidak sengaja. Bentuk tubuh ikan ini yang sangat pipih membuatnya sulit keluar dari jaring setelah tertangkap.
Akibatnya, ikan dori bisa tertangkap dalam jumlah cukup besar meskipun tidak diburu secara khusus.
Di wilayah Mauritania, penelitian menunjukkan bahwa biomassa ikan dori turun sekitar 7 persen dalam 24 tahun. Penurunan ini berkaitan dengan eksploitasi perikanan yang intensif di wilayah tersebut.
Selain itu, metode pukat dasar juga bisa merusak habitat laut. Alat tangkap ini menyapu dasar laut dan dapat menghancurkan berbagai organisme bentik. Kerusakan habitat seperti ini akhirnya mempengaruhi tempat mencari makan ikan dori.
Ancaman lain datang dari tidak adanya ukuran minimum penangkapan di banyak wilayah. Akibatnya, ikan yang masih muda sering ikut tertangkap sebelum sempat berkembang biak.
Situasi ini tentu berbahaya bagi keberlanjutan populasi.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) saat ini mencatat status ikan dori sebagai Data Deficient atau “kekurangan data”. Status tersebut berarti para ilmuwan belum memiliki informasi yang cukup untuk menentukan apakah spesies ini terancam punah atau tidak.
Ironisnya, kekurangan data justru bisa menjadi masalah besar. Tanpa data yang memadai, pemerintah dan pengelola perikanan sulit membuat kebijakan perlindungan yang tepat.
Adaptasi untuk Bertahan Hidup

Walaupun menghadapi banyak tekanan di alam, ikan dori memiliki berbagai adaptasi yang membuatnya tetap mampu bertahan.
Salah satu kemampuan paling menarik adalah teknik berburu secara diam-diam.
Jika dilihat dari depan, tubuh ikan dori sangat tipis. Bentuk ini memungkinkan mereka mendekati mangsa tanpa menimbulkan gelombang air yang besar. Dengan kata lain, mangsa sering tidak menyadari kehadiran predator ini sampai sudah terlambat.
Ketika jarak sudah cukup dekat, ikan dori langsung membuka mulutnya dengan sangat cepat. Mulutnya dapat menonjol keluar (protrusible) dan menciptakan efek vakum yang menyedot mangsa ke dalam.
Gerakan ini terjadi dalam waktu sangat singkat.
Rahangnya juga sangat fleksibel. Struktur tersebut memungkinkan ikan dori menelan mangsa yang ukurannya cukup besar dibanding tubuhnya.
Fungsi Bintik Hitam yang Unik
Ciri paling terkenal dari ikan dori adalah bintik hitam besar di sisi tubuhnya.
Banyak cerita rakyat mengaitkan tanda ini dengan legenda Santo Petrus, sehingga ikan ini kadang disebut Peter’s Fish.
Namun secara biologis, bintik tersebut kemungkinan memiliki fungsi yang lebih praktis.
Para peneliti menduga bintik hitam itu berfungsi untuk membingungkan predator atau mangsa. Pola tersebut bisa menyerupai mata besar yang menghadap ke arah berbeda.
Akibatnya, mangsa sulit menentukan arah sebenarnya dari serangan ikan dori.
Pada beberapa spesies seperti Zeus capensis, posisi bintik berada di bawah pertemuan dua bagian sirip punggung. Sementara pada John Dory, bintik tersebut terletak tepat di tengah tubuh dan sering dikelilingi lingkaran kuning.
Selain itu, ikan ini memiliki mata yang sangat besar. Posisi mata berada cukup tinggi di kepala dan menghadap ke arah samping atas.
Susunan ini memberi ikan dori kemampuan melihat dengan baik sekaligus memperkirakan jarak mangsa secara akurat. Bagi predator penyergap, kemampuan tersebut sangat penting.
Karakteristik Biologis dan Morfologi
Ikan dori dapat tumbuh cukup besar. Panjang tubuhnya bisa mencapai 65 hingga 90 sentimeter, dengan berat sekitar 5 sampai 8 kilogram.
Di alam liar, ikan ini biasanya hidup hingga sekitar 12 tahun.
Tubuh ikan dori ditutupi sisik yang sangat kecil. Sisik tersebut hampir tidak terlihat karena tertanam dalam kulit.
Sirip punggung ikan ini juga sangat khas. Bagian depannya memiliki 9 hingga 11 duri panjang, dan pada ikan dewasa duri tersebut bisa memanjang seperti pita.
Sementara itu, bagian belakang sirip punggung memiliki sekitar 22 hingga 24 jari-jari lunak.
Sirip duburnya memiliki 4 duri dan sekitar 20–23 jari-jari lunak.
Sirip perut terletak di bagian dada dan bentuknya cukup panjang. Pada ujung sirip ini, jari-jari sirip terlihat bebas dari membran sehingga tampak seperti benang.
Di sepanjang bagian perut terdapat struktur pelindung berupa scute, yaitu sisik yang berubah menjadi pelat tulang keras berduri.
Pelindung ini juga muncul di pangkal sirip punggung dan sirip anal.
Adaptasi ini membantu ikan dori melindungi tubuhnya dari predator.
Kebiasaan Makan dan Perilaku
Di alam liar, ikan dori termasuk predator yang cukup spesialis. Para peneliti bahkan menyebutnya sebagai ikan stenofag, yaitu predator yang tidak memakan terlalu banyak jenis mangsa.
Sebagian besar waktu hidupnya dihabiskan sendirian. Ikan dori biasanya berburu secara soliter, meskipun sesekali mereka terlihat dalam kelompok kecil. Hal ini biasanya terjadi saat musim kawin atau ketika mereka mengikuti gerombolan mangsa yang sedang bermigrasi.
Menariknya, ikan ini bukan perenang yang cepat. Mereka tidak memiliki gaya berenang agresif seperti tuna atau barracuda.
Sebaliknya, ikan dori bergerak menggunakan pola yang disebut balistiform swimming. Dalam pola ini, sirip punggung dan sirip anus bergerak naik turun secara bersamaan untuk menghasilkan dorongan. Sirip dada kemudian membantu menjaga keseimbangan dan mengatur arah gerakan.
Cara berenang seperti ini membuat ikan dori dapat bergerak perlahan, stabil, dan hampir tanpa suara di dalam air. Teknik tersebut sangat cocok untuk mendekati mangsa tanpa menimbulkan kecurigaan.
Menu makanan ikan dori dewasa didominasi oleh ikan-ikan kecil yang hidup bergerombol. Beberapa mangsa yang paling sering ditemukan antara lain:
-
ikan sarden
-
ikan teri
-
ikan makarel kecil
-
berbagai ikan clupeid lainnya
Selain itu, mereka juga sesekali memakan cumi-cumi, sotong, serta krustasea kecil.
Sementara itu, ikan dori yang masih muda memiliki pola makan yang berbeda. Mereka biasanya memakan organisme planktonik seperti:
-
kopepoda
-
eufausiida
-
mysid
-
krustasea kecil lainnya
Ketika ukuran tubuhnya bertambah besar, pola makan mereka berubah secara bertahap menjadi predator ikan kecil.
Ketergantungan pada mangsa tertentu membuat ikan dori sangat sensitif terhadap perubahan populasi ikan kecil di habitatnya. Jika stok ikan kecil berkurang akibat penangkapan berlebih atau perubahan lingkungan, ikan dori juga akan ikut terdampak.
Siklus Reproduksi dan Pertumbuhan
Dibandingkan banyak ikan pelagis lain, ikan dori memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif lambat.
Mereka biasanya mencapai kematangan seksual pada usia sekitar 3 sampai 4 tahun. Pada fase ini, panjang tubuhnya sudah mencapai sekitar 29 hingga 35 sentimeter.
Musim pemijahan umumnya berlangsung dari akhir musim dingin hingga awal musim panas, meskipun waktunya bisa sedikit berbeda tergantung wilayah geografis.
Ikan dori melakukan reproduksi dengan metode yang disebut broadcast spawning.
Dalam metode ini, ikan jantan dan betina melepaskan telur dan sperma langsung ke kolom air. Pembuahan terjadi secara eksternal di lingkungan perairan.
Setelah dibuahi, telur ikan dori memiliki sifat negatif apung, sehingga telur akan tenggelam dan menempel pada substrat di dasar laut.
Pada beberapa spesies dalam kelompok dory, seperti Zenopsis nebulosa, para peneliti bahkan menemukan kemungkinan fertilisasi internal di dalam oviduk.
Walaupun demikian, sebagian besar spesies dory tetap melakukan pembuahan secara eksternal.
Karena tidak ada perawatan induk terhadap telur maupun larva, tingkat kelangsungan hidup alami ikan dori sebenarnya cukup rendah. Banyak telur dan larva yang menjadi mangsa organisme lain di laut.
Situasi ini membuat populasi ikan dori cukup rentan terhadap gangguan tambahan seperti penangkapan berlebih.
Data Biologis Ikan Dori
Berikut gambaran singkat karakter biologis ikan dori laut.
| Parameter | Keterangan |
|---|---|
| Nama ilmiah | Zeus faber (Linnaeus, 1758) |
| Nama umum | John Dory, St Pierre, Peter’s Fish |
| Habitat | Perairan bentopelagis landas kontinen |
| Sebaran | Atlantik Timur, Laut Tengah, Laut Hitam, Indo-Pasifik |
| Ukuran rata-rata | sekitar 40 cm |
| Ukuran maksimum | 66–90 cm |
| Berat maksimum | sekitar 5–8 kg |
| Pola makan | Karnivora, pemangsa ikan kecil |
| Status konservasi | Data Deficient (IUCN) |
Kandungan Gizi Ikan Dori
Selain menarik dari sisi ekologi, ikan dori juga memiliki nilai gizi yang cukup baik.
Dagingnya berwarna putih, padat, dan memiliki rasa yang ringan namun gurih. Karena itu ikan ini cukup populer dalam berbagai masakan Eropa, terutama di Prancis dan Italia.
Berikut gambaran kandungan gizi ikan dori per 100 gram daging.
| Nutrisi | Kandungan |
|---|---|
| Protein | 17–21 gram |
| Lemak total | 1–5,36 gram |
| Omega-3 | sekitar 0,65 gram |
| Vitamin D | 476 mikrogram |
| Kalsium | 14 mg |
| Selenium | 21 mikrogram |
| Zat besi | 0,24 mg |
| Seng | 0,36 mg |
| Kalium | sumber baik |
| Magnesium | sumber baik |
Kandungan protein yang cukup tinggi membuat ikan ini menjadi sumber nutrisi yang baik bagi tubuh.
Yang paling menarik adalah kandungan vitamin D yang sangat tinggi. Dalam beberapa analisis, jumlahnya bahkan jauh lebih besar dibandingkan banyak jenis ikan lainnya.
Vitamin D sangat penting bagi tubuh karena membantu penyerapan kalsium serta menjaga kesehatan tulang.
Manfaat Ikan Dori bagi Kesehatan
Dari sisi kesehatan, konsumsi ikan dori dapat memberikan beberapa manfaat bagi tubuh.
Protein di dalam ikan ini membantu memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Tubuh juga menggunakan protein untuk berbagai proses penting seperti pembentukan kolagen, sintesis DNA, serta produksi enzim.
Mineral seperti kalsium dan fosfor berperan penting dalam menjaga kekuatan tulang dan gigi.
Asam lemak omega-3 juga memberikan manfaat besar bagi kesehatan otak. Nutrisi ini membantu meningkatkan fungsi kognitif, memperlancar aliran darah di otak, serta mendukung perkembangan sistem saraf.
Omega-3 juga dikenal mampu membantu mengurangi peradangan dalam tubuh.
Selain itu, ikan dori mengandung beberapa mineral penting seperti magnesium, selenium, dan seng.
-
Selenium bertindak sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh.
-
Magnesium membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
-
Seng berperan dalam sistem kekebalan tubuh.
Kombinasi nutrisi tersebut membuat ikan dori menjadi salah satu sumber protein laut yang cukup sehat.
Jenis-Jenis Ikan dalam Keluarga Zeidae
Ikan dori laut sebenarnya termasuk dalam keluarga Zeidae.
Keluarga ikan ini tidak terlalu besar. Secara keseluruhan hanya terdapat enam spesies yang terbagi dalam dua genus utama.
Selain Zeus faber, terdapat beberapa spesies lain yang masih memiliki hubungan dekat.
Salah satunya adalah Zeus capensis, yang sering disebut Cape Dory di Afrika Selatan.
Spesies ini memiliki bentuk tubuh mirip dengan John Dory dan juga memiliki bintik hitam khas di sisi tubuhnya. Ukurannya bahkan dapat mencapai sekitar 90 sentimeter.
Penelitian genetika terbaru juga menunjukkan bahwa populasi John Dory di wilayah Pasifik memiliki perbedaan genetik cukup jelas dibanding populasi di Eropa.
Karena itu, beberapa ilmuwan mengusulkan nama Zeus japonicus untuk populasi yang hidup di wilayah Pasifik.
Selain genus Zeus, ada juga genus Zenopsis.
Salah satu spesiesnya adalah Zenopsis nebulosa, yang dikenal sebagai mirror dory. Spesies ini hidup di kawasan Indo-Pasifik dan memiliki ciri mulut yang lebih mengarah ke atas.
Walaupun berbeda spesies, semua ikan dalam keluarga ini memiliki bentuk tubuh pipih dan gaya berburu yang mirip.

Perbedaan Ikan Dori Laut dan “Ikan Dori” Fillet
Di Indonesia, istilah ikan dori sering menimbulkan kebingungan.
Produk fillet yang dijual dengan nama tersebut sebenarnya biasanya berasal dari ikan patin (Pangasius sp.), bukan dari ikan dori laut.
Penggunaan nama “dori fish” pada produk patin lebih merupakan strategi pemasaran.
Menurut keterangan Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebagian besar produk fillet tersebut berasal dari ikan patin yang dibudidayakan di Vietnam.
Perbedaan antara kedua ikan ini sebenarnya cukup jelas.
Ikan dori laut (Zeus faber)
-
hidup di laut
-
tubuh pipih seperti piring
-
memiliki bintik hitam khas
Ikan patin (Pangasius)
-
hidup di air tawar
-
tubuh memanjang seperti lele
-
tidak memiliki bintik hitam
Selain itu, tekstur daging ikan dori laut biasanya lebih padat dan rasanya lebih gurih dibandingkan ikan patin.
Karena jumlahnya tidak terlalu banyak dan sulit ditangkap, harga ikan dori laut juga jauh lebih mahal.
Peran Ikan Dori dalam Ekosistem Laut
Dalam ekosistem laut, ikan dori menempati posisi sebagai predator tingkat menengah.
Mereka membantu mengontrol populasi ikan kecil seperti sarden dan teri. Dengan demikian, keseimbangan komunitas ikan di suatu wilayah tetap terjaga.
Namun ikan dori sendiri juga tidak sepenuhnya berada di puncak rantai makanan.
Beberapa predator besar masih dapat memangsa ikan ini, misalnya:
-
hiu kelam (Carcharhinus obscurus)
-
berbagai ikan predator besar di landas kontinen
Dengan nilai trofik sekitar 4,5, ikan dori memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas jaring makanan laut.
Selain itu, aktivitas makan ikan dori juga membantu mentransfer energi dari kolom air menuju ekosistem dasar laut.
Ikan Dori di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, kondisi ikan dori di dunia menunjukkan gambaran yang cukup unik.
Di satu sisi, spesies ini masih memiliki sebaran geografis yang sangat luas. Populasinya tersebar dari Atlantik hingga Indo-Pasifik.
Jangkauan habitat yang besar ini membuat risiko kepunahan global relatif rendah.
Namun di sisi lain, tekanan dari aktivitas perikanan terus meningkat.
Sebagai spesies yang sering tertangkap sebagai bycatch, ikan dori jarang memiliki kuota penangkapan khusus.
Banyak wilayah juga belum menerapkan ukuran minimum tangkap.
Akibatnya, ikan yang masih muda sering ikut tertangkap sebelum sempat berkembang biak.
Status Data Deficient dari IUCN menunjukkan bahwa para ilmuwan masih kekurangan data untuk menilai kondisi populasi secara akurat.
Karena itu, penelitian lebih lanjut sangat diperlukan.
Pengelolaan perikanan yang lebih baik juga menjadi kunci penting. Pencatatan bycatch yang lebih teliti serta penggunaan alat tangkap yang lebih selektif dapat membantu menjaga keberlanjutan populasi ikan dori di masa depan.
Di Indonesia sendiri, pemahaman masyarakat tentang perbedaan ikan dori laut dengan produk fillet komersial masih perlu ditingkatkan.
Dengan pengetahuan yang lebih baik, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih bijak sekaligus membantu menghargai keanekaragaman sumber daya laut yang ada.